Jumat, 10 Mei 2019

KONVENSI DALAM FILM



KONVENSI DALAM FILM

a.       Pengertian konvensi

Konvensi lebih merupakan kesepakatan terhadap prinsip – prinsip dasar mengenai sesuatu hal. Dalam kaitannya dengan film, konvensi diartikan sebagai penerapan prinsip prinsip film yang dapat diterima atau diyakini audience.

b.      Macam – macam Konvensi

1.       Continuity film .Continuity film atau scene adalah sebuah penggambaran secara literal atau harafiah realitas hidup dalam keadaan yang dapat dipercaya dengan tatanan kronologis yang runtut.
2.       Dynamic film . istilah lainnya adalah non continuity flm yang tentu saja sangat berbeda dengan continuity film, karena dynamic fl mini ditandai oleh sifatnya yang documenter dan mengandung unsure fantasi.
3.       Ilusi realitas. Film – film yang bertemakan fantasi, supranatural, horror, maupun science fiction juga memerlukan ilusi realitas sendiri agar dapat diterima audience. Untuk tu diperlukan pijakan tersendiri agar semua elemen film yang dibuat nampak realistis sesuai denga ligika dan kejadian – kejadian ilmiah.
4.       Frame . merupakan pemilihan gambar dan suara yang dilakukan oleh pembuat film untuk membingkainya secara bak srta menyambung – nyambungkan dalam sebua kesatuan utuh.
5.       Visual thinking. Merupakan cara melihat segala aspek kehidupan yang dituangkan dalam film sebatas yang mampu terekam dalam bidang frame untuk kemudian ditata sesuai dengan keinginan pembuat film.

Mise – en- Scene
Adalah setting yang merupakan suasana di mana karakter hidup. Mungkin pas mungkin pula tidak.yang jelas meski disengaja atu tidak ileh pembuat film mise-en-scene adalah adegan yang benar – benar teringat kuat dalam benak audience.

Kamis, 09 Mei 2019

MANIPULASI WAKTU DALAM FILM



MANIPULASI WAKTU DALAM FILM

Dalam membuat film dengan setting waktu tertentu terkadang karena keterbatasan durasi film adalah sangat tidak mungkin film maker membuat adegan dengan real time seperti waktu yang sebenarnya.

a.       Screen Time
Yaitu melalui peristiwa yang dinampakkan dilayar misalnya hari, bulan, tahun dll. Biasanya untuk memudahkan penonton, keterangan waktu itu ditunjukkan melaluipenulisan tittle atau subtitle di layar. Variasi penampilannya pun beragam, bisa di tulis di layar kosong atau dibubuhkan padaa adegan atau gambar tertentu. Missal : 6 tahun kemudian.

b.      Subjective Time
Manipulasi waktu yang subyektif ini muncul melalui emosi atau perasaan yang ditunjukkan melalui acting karakter. Dramatisasi acting ini juga bisa dibantu melalui gerakkan kamera dan editing.
Contoh : gambar seorang laki – laki yuang cemas dan gelisah mondar-mandir di depan sebuah kamar bersalin di sebuah rumah sakit yang diedit dengan menggunakan trasisi dissolve untuk menunjukkan bahwa dia telah menunggu lama istrinya yang sedang melahirkan.

c.       Compressed Time
Manipulasi waktu dengan waktu yang dipampatkan biasanya dibuat melalui pembuatan sekwen, scene atau shit dengan setting waktu yang berbeda.bisa juga dibantu dengan penggunaan cut atau dissolve.
Contoh ; orang yang turun dari mobildi depan rumah disambung dengan dia menutup pintu dan duduk di ruang tamu. Menunjukkan dia sudah melalui proses berjalan dari mobil ke pintu dan menutupnya kembali lalu duduk, tanpa harus divisualisasikan seluruh proses.

d.      Long Take
Yaitu shot tunggal yang menunjukkan periode waktu tertentu yang kelihatan natural karena hampir sesuai dengan kenyataannya. Misal orang menarik uang dari ATM dengan proses yang urut meski tidak selama sesungguhnya tapi nampak real.

e.      Simultaneous Time
Peristiwa yang terjadi di tempat yang berbeda tapi bersamaan dengan parallel editing atau cross editing.
Contoh : foto suami istri di pigura yang jatuh di depan istri tersebut dengan kecelakaan yang dialami suaminya.

f.        Slow-motion
Penggunaan efek memperlambat adegan untuk menunjukkan bahwa adegan dilakukan dengan cepat (contoh : million dollar man), atau bisa juga untuk menekankan efek dramatik adegan tersebut.

g.       Fast-motion
Penggunaan efek mempercepat adegan untuk memperlambat adegan atau membuat kesan lucu. (contoh: tokoh pantomime di spontan).

h.      Reserve Motion
Penggunaan adengan diulang untuk menunjukkan bahwa action tidak jadi dilakukan seperti orang yang terjun ke kolam ditarik sehingga tidak jadi. Sering digunakan untuk film komedi.

i.        Replay
Pengulangan beberapa adegan yang dianggap penting untuk menunjukkan bahwa si karakter sedang mengingat apa yang pernah terjadi.

j.        Freeze-frame
Penggunaan still foto atau tidak ada gerakan sama sekali untuk menunjukkan waktu yang telah berlalu dan kemudian berganti dengan adegan atau proses selanjutnya.

k.       Flashback
Sebuah break si antar runtutan adengan untuk menujukkan apa yang pernah terjadi di masa lalu yang berhubungan dengan apa yang terjadi sekarang. Seringkali digunakan visualisasi yang berlainan antara masa kini dan masa lalu untuk mempermudah penonton memahami seperti penggunaan warna sephia atau black and white untuk masa lalu dibuat contrast dengan full colour untuk masa kini. Bisa juga menggunakan efek editing khusus seperti keliatan blitz dll.

Rabu, 08 Mei 2019

MEMAHAMI (LAGI) GERAKAN KAMERA (JUGA) GAMBAR



A.      TUJUAN GERAKAN KAMERA

1.       Gerakan Panning
a.       Tujuan fungsional/ teknis
1.       Mengikuti gerakan subyek / keinginan untuk menunjukan situasi
2.       Menunjukkan bagian - bagian dimana bagian - bagian tersebut mempunyai hubungan satu sama lain
3.       Menunjukkan pemandangan secara keseluruhan
4.       Menghindari subyek atau obyek yang tidak diinginkan masuk dalam gambar
b.      Tujuan artistik
1.       Menghubungkan beberapa subyek yang tempatnya terpisah
2.       Memperlihatkan hubungan bagian yang satu dengan bagian yang lainnya
3.       Memperlihatkan sebab akibat
4.       Mengalihkan titik perhatian penonton
5.       Membangun keteganggan yang mempunya dampak penonton

2.       Gerakan Pedestal Up
a.       Tujuan fungsional/ teknis
1.       Melihat gerakan secara keseluruhan
2.       Menghindari subyek atau obyek yang ada di foreground atau latar depan gambar
b.      Tujuan artistik
1.       Melihat subyek atau obyek dari atas ke bawah
2.       Mengurangi kekuatan subyek
3.       Mengurangi dominasi foreground

3.       Gerakan Pedestal Down
a.       Tujuan fungsional/ teknis
1.       Mendapatkan level shots dari sunyek yang rendah letaknya
2.       Mengambil gambar subyek atau obyek sekaligus dengan foregroundnya
3.       Menghindari gerakan di belakang subyek
b.      Tujuan artistic
1.       Meningkatkan perhatian penonton
2.       Menambah kekuatan subyek

4.       Gerakan Dolly /Track In
a.       Tujuan fungsional/ teknis
1.       Memperlihatkan aktivitas talent secara lebih rinci
2.       Menghindari subyek atau obyek yang tidak diperlukan
3.       Memposisikan kembali setelah terjadi perubahan kedudukan subyek atau obyek
4.       Merubah titik perhatian gambar
5.       Memperkuat subyek yang sedang menuju kamera
b.      Tujuan artistic
1.       Menciptakan efek subyektif
2.       Meningkatan ketegangan
3.       Mengisi subyek yang mulai lemah dominasinya karena subyek menjauhi kamera
4.       Mengalihkan perhatian penonton
5.       Memusatkan perhatian
6.       Memperlihatkan adanya informasi baru pada gambar
7.       Memperlihatkan subyek yang dinilai penting


5.       Gerakan Dolly /Track Out
a.       Tujuan fungsional/ teknis
1.       Memperluas sudut pandangan
2.       Memperlihatkan kedudukan subyek lebih banyak
3.       Memperlihatkan kedudukan yang lebih luas
4.       Menunjukkan informasi baru
5.       Memperlihatkan masuknya subyek yang baru dalam gambar
6.       Mengakomodasikan gerakan yang akan datang
b.      Tujuan artistik
1.       Mengurangi dominasi
2.       Menciptakan efek subyektif
3.       Menunjukkan adanya suatu kejutan
4.       Meningkatkan ketegangan
5.       Menunjukkan adanya suatu hubungan

6.       Gerakan Trauck/ Crub
a.       Tujuan fungsional/ teknis
1.       Melihat subyek dari sudut pandang yang lain, tanpa terjadi transisi gambar
2.       Mengikutkan atau tidak mengikutkan subyek pada foreground maupun background
3.       Memperbaiki posisi subyek yang salah letaknya
4.       Menunjukkan adanya informasi ataupun subyek baru yang muncul dalam gambar
5.       Mengkomposisikan
b.      Tujuan artistic
Merubah titik atau pusat perhatian penonton

7.       Gerakan Following tracking/ mengikuti subyek
a.       Tujuan fungsional/ teknis
1.       Pada close up , agar subyek tetap berada pada frame gambar, dengan maksud untuk memperlihatkan reaksi atau informasi secara rinci
2.       Pada long shot, memperlihatkan aktivitas subyek pada suatu lingkungan atau hubungannya dengan subyek – subyek lainnya pada gambar
b.      Tujuan artistic
1.       Menghubungkan subyek dengan lingkungannya
2.       Menghindari adanya transisi gambar
3.       Menghindari perubahan sudut pandang
4.       Mempertahankan kontinuitas


B.      KOMPOSISI GAMBAR

Dalam menata gambar dalam film layar lebar biasanya, komposisi yang dipilih akan memberikan efek lain. Komposisi yang standard an lazin digunakan adalah penaruhan subyrk atau obyek gambar di tengah layar. Padahal sebenarnya variasi bisa diberikan dalam beberapa alternative.